// you’re reading...

Liputan Khusus

The Journey – English Language Program for Lecturer (#1)

13709989_10209018290709840_4684359843134815988_nHARI PERTAMA
Bulan Juli tahun ini saya berkesempatan bersama empat orang dosen Stikom Surabaya untuk mengikuti program overseas di salah satu kampus besar di Sydney, Macquire University selama satu bulan.

Bagi saya yang belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di Australia, ini adalah pengalaman baru yang walhasil banyak sekali hal menarik yang perlu saya tulis. Mengapa? Karena saat kembali ke Indo kami memang ditugaskan untuk membuat report ke institusi plus saya yakin dari bagian PR akan menagih sharing yang bisa kami reportkan buat majalah Stikom Surabaya.

Flight Berangkat
Flight kami ke Ausie menggunakan Qantas yang departure dari Jakarta, sehingga siang hari kami berangkat dari Surabaya ke Jakarta terlebih dulu. Walau flight Qantas baru pukul 20.05 WIB, namun menjaga resiko delay dan proses transfer terminal domestik ke internasional sehingga kami menggunakan flight siang hari. Thanks to Bu Listya dan Bu Lilis yang turut mengantar rombongan kami ke Juanda.

Flight Qantas malam itu on schedule, pesawat besar tipe Airbuss sangat berbeda dengan pesawat yang kami gunakan sebelumnya. Di setiap kursi tersedia bantal, selimut, dan headsheet yang pastinya memang dibutuhkan oleh penumpang karena ini flight malam hari dan selama 7 jam kami akan menempuh perjalanan.

Makan malam di pesawat disajikan pukul 22.00 waktu setempat, pas posisi perut memang sudah keroncongan.Tiga menu main course ditawarkan kepada setiap penumpang, dan tentunya karena saya sudah kelaparan saya pilih menu yang paling heavy dari pilihan yang ada, stir fried beef with Shanghai noodles, capsicum and green beans. Cukup sesuai dengan lidah yang saya miliki, shanghai noodles yang dimaksud adalah mie berbentuk putih halus lembut yang biasa di rumah saya sebut misoa. Sayangnya dari kita berlima kelihatannya Ms. Yani yang kurang bisa menikmati menu main course malam itu karena beberapa bumbu tidak terasa cocok di lidahnya. Untungnya walau untuk makanan kurang berselera, namun Ms Yani saya lihat bisa memejamkan mata untuk beristirahat sejenak, berbeda dengan Ms Yosefine yang terjaga semalaman sampai kami tiba di Sydney pukul 06.05 waktu setempat keesokan harinya. O..iya, ada perbedaan waktu tiga jam lebih cepat antara Sydney dibanding Surabaya.

Seusai mendarat, kami berlima bergegas untuk menuju pengambilan bagasi dan proses imigrasi. Mengapa bergegas? Karena dari beberapa warning yang kami peroleh proses bagasi di Ausie cukup detail. Semalam sebelumnya kami sudah mengisi form kecil yang kami terima di atas pesawat berisi list pertanyaan tentang tujuan kami ke Sydney. Bermacam pilihan pertanyaan tentang kesehatan dan yang paling harus hati-hati adalah declare tentang barang-barang yang kami bawa. Di Ausie tidak diperbolehkan membawa semua produk makanan dari daging, susu dan telur. Namun semua kekhawatiran kami tidak terjadi, proses imigrasi dari kami berlima sangat lancar, bahkan kami bisa ready di titik meeting point yang dituju 15 menit lebih awal. Saat keluar dari gerbang gedung airport, hawa dingin menusuk langsung menerjang. Batin saya ini mirip pergi naik Ijen pada dini hari seperti yang pernah saya lakukan delapan tahun lalu. Tapi yang paling membuat tidak nyaman, dingin ini bercampur dengan angin, sehingga suhu sekitar empat derajat ini semakin terasa menggigit ke badan.

Kami berlima sepakat membeli kartu telephone Australia di airport agar lebih mudah untuk saling berkabar selama di Ausie. Mengapa demikian? Karena finally setelah kami bertemu dengan semua homestay di Macquire University pagi itu kami akan berpisah dan harus survive sendiri di tempat keluarga homestay masing-masing.

Tuan rumah homestay saya adalah Caroline, seorang wanita paruh baya dengan satu putri, Genevieve yang masih remaja. O.. iya, ada satu orang rekan homestay yang berasal dari Jepang, bernama Wanaka, sehingga total ada empat penghuni di dalam rumah cukup besar ini. Caroline, Gene dan Wanaka stay di lantai atas, dan saya sendirian di lantai bawah. Beruntung ada Holly, anjing kecil cantik yang sering menemani saya di lantai bawah di hari pertama saya di rumah homestay. Suasana menjadi lebih cair saat makan malam, kami berempat berbincang tentang banyak hal. Mostly karena mereka harus menjawab banyak pertanyaan saya tentang lingkungan di sekitar rumah homestay tersebut.

Malam ini saya harus tidur lebih awal agar besok bisa berangkat pagi bersama Wanaka, belajar menggunakan transport public untuk menuju ke Macquire. Semoga besok saya bisa melanjutkan tulisan ini.

Goddnight Sydney.
Miss my family
Okta Dhammayani

Discussion

One comment for “The Journey – English Language Program for Lecturer (#1)”

  1. laporannya mantab. Wes cocok jadi “traveler reporter” (y)

    Posted by prazetyo | August 4, 2016, 6:48 am

Post a comment