// you’re reading...

Seputar Kampus

Stikom Surabaya Bekali Tim Media Kampus Pelatihan Jurnalistik

Diklat Jurnalistik

Diklat Jurnalistik

Diklat jurnalistik kembali digelar di Stikom Surabaya, tepatnya di ruang rapat gedung biru. Diklat diikuti oleh tim media kampus, meliputi tim STIKOMAGZ, Stikom Marketing Community (SMC), tim Public Relation and Marketing (PRM), dan beberapa perwakilan mahasiswa. Acara yang digelar selama dua hari ini, 5-6 Januari 2016, merupakan salah satu upaya Stikom Surabaya dalam rangka membekali Sumber Daya Manusia (SDM) yang mengelola media kampus Stikom Surabaya. Total peserta yang hadir kurang lebih 30 orang.

Bagi peserta yang baru pertama kali mengikuti diklat, tentu sangat berguna untuk menambah wawasan baru. Sedang bagi peserta lain, pelatihan ini merupakan pelatihan lanjutan dari yang pernah dilangsungkan. Peserta diharapkan agar memahami pernulisan jurnalistik lebih mendalam, khususnya berita stright news atau hard news. Hal ini sesuai dengan latar belakang diselenggarakannya diklat lanjutan ini, yaitu memperkaya konten media kampus Stikom Surabaya. Pelatihan ini juga bertujuan agar seluruh informasi terkait lembaga dan aktivitas lainnya yang berpotensi memiliki news value dapat cepat terekspose.

Menulis berita buat sebagian orang memang bukan urusan mudah. “Menulis itu harus punya passion dan terus berlatih,” terang Titik salah satu pemateri diklat. Wanita berkerundung yang sekaligus mantan wartawan senior Jawa Pos selama 10 tahun itu menambahkan, untuk menjadi penulis handal tidak cukup hanya mengikuti pelatihan dua hari seperti ini, tetapi perlu membiasakan diri dan pantang menyerah.

Topik diklat jurnalistik edisi ini meliputi materi menulis berita hard news atau stright news, teknik wawancara, dan bonus sekilas menulis features. Standar dalam penulisan berita yang sudah banyak diketahui mutlak harus memuat unsur WHO, WHAT, WHEN, WHERE, WHY, HOW (5W 1H). Namun belakangan sejalan perkembangan media informasi, bertambah satu unsur lagi yaitu WOW (W), artinya harus benar-benar menarik, jika perlu audiens sampai berlama-lama membacanya dan penasaran. Bahkan beberapa media malah menambahkan unsur-unsur yang dianggap bisa memberi dampak lebih kepada audiens, contoh unsur “So What Gitu Lho” (S), maksudnya adalah tulisan harus memiliki value lebih selain informasi. Sehingga jika dirangkai keseluruhan elemen atau unsur dalam menulis berita 6W 1H 1S.

Tulisan jurnalis sangat berbeda dengan jenis tulisan yang lain, khususnya berita berjenis hard news. Straight news mutlak harus memiliki teras berita (kepala/lead) yang di dalamnya minimal harus terdapat unsur 5W 1H. Paragraf berikutnya barulah mengupas lebih dalam dari unsur yang terdapat dalam lead. Lebih penting lagi tulisan antar paragraf harus saling terhubung, agar pembaca nyaman mengikuti alur tulisan.

Menulis berita harus didasari fakta, sumber, dan banyak referensi agar memiliki news value yang tinggi dan kredibel secara kualitas. Metode wawancara yang efektif akan memberi poin lebih terhadap kualitas tulisan.

Titik di akhir sesi menyampaikan, bagi pemula sebaiknya menyiapkan daftar pertanyaan dalam bentuk kerangka pikiran agar saat bertemu narasumber sudah siap tidak bingung apa yang dilakukan.

Sesi terakhir diklat diisi oleh dosen sekaligus Kepala Program Studi S1 Desain Komunikasi Visual, Bahruddin. Materi yang ia sampaikan adalah penulisan feature. “Menulis feature itu paling sulit dibanding jenis tulisan berita lainnya,” jelas pria berkacamata ini. Feature termasuk jenis tulisan soft news, tidak harus mengikuti ‘pakem’ seperti penulisan hard news. Sifat tulisan mengalir dan setiap paragraf dianggap penting.

“Menulis feature perlu kreativitas dan imajinasi tinggi,” sambung Bahruddin sambil sesekali diselingi gurauan. Gaya penulisan menghibur, membawa suasana, dan boleh subjektif. Ciri paling terlihat dari jenis tulisan ini adalah alur dan isi yang lebih fleksibel, tidak harus mengikuti pola penulisan piramida terbalik, namun tetap jelas dan logis.

Pada sesi akhir diklat peserta diminta membuat lead yang dievaluasi oleh pemateri. Dari sebagian pesar komentar narasumber, peserta sudah mengerti dan bisa menerapkan materi diklat kali ini. Pesan terakhir dari narasumber kepada peserta adalah sering berlatih, komitmen, dan ciptakan passion tinggi terhadap menulis. [adh]

 

Discussion

One comment for “Stikom Surabaya Bekali Tim Media Kampus Pelatihan Jurnalistik”

  1. menambah wawasan baru 🙂

    Posted by Baru musik | June 19, 2016, 9:34 pm

Post a comment