// you’re reading...

Artikel Prodi

Sepenggal Jalan Raya Kendangsari

Kalau anda tinggal di daerah Surabaya Selatan atau paling tidak anda berasal dari selatannya Surabaya dan berbondong-bondong menuju ke Surabaya Timur, kemungkinan besar anda akan melewati Jalan Raya Kendangsari. Tapi kalau anda tidak pernah melewati jalan itu, maka carilah telepon genggam dan buka google map, kemudian agendakan untuk besok pagi bersama para pemburu dolar yang lain melintasi jalan itu. Catat baik-baik dan aktifkan pengingat dalam google calendarmu.

Dr. Jusak Irawan - Dosen S1 Sistem Komputer Stikom Surabaya

Dr. Jusak Irawan – Dosen S1 Sistem Komputer Stikom Surabaya

Mengapa saya memaksa anda untuk melewati jalan itu? Ada sepenggal jalan di jalan itu yang menurut saya adalah jalan paling eksotis di seluruh Surabaya. Jalan ini terletak di antara pertigaan yang mengarah ke jalan Raya Jemursari dan perempatan bangjo, kata orang Yogyakarta. Bukan karena penampakannya. Karena penampakan jalan itu sama seperti jalan-jalan yang lain. Biasa saja. Tidak gemerlap seperti layaknya tempat-tempat hiburan malam di bagian Surabaya yang lain. Apalagi para penari setengah telanjang yang meliuk-liukkan badannya di atas podium, jangan harapkan ada di situ. Sepenggal jalan itu sedikit melengkung ke kanan kemudian lurus. Di kanan kirinya dipenuhi pohon-pohon peneduh jalan. Mungkin orang menyebut pohon tanjung, pohon trembesi dan pohon glodokan tiang. Ranting dan daunnya berjuntai-juntai memayungi setiap kendaraan yang lewat sambal menebarkan kesejukan.

Dan mungkin juga karena posisi jalan itu tidak sejajar dengan arah timur maka sinar matahari tidak secara langsung membakar bagian badan jalan. Pagi atau siang saat terik jam 12 pas, jalan itu tetap rindang dan eksotis. Kalau anda mengendarai sepeda motor cobalah membuka tutup hidung, tapi jangan membuka helm karena pak polisi juga sama seperti saya suka berlama-lama cangkruk di situ. Kalau anda mengendarai mobil bukalah sejenak kaca mobil, tapi tidak usah sambil melambai-lambaikan tangan seperti orang kurang perhatian. Maka anda akan tahu betapa eksotisnya menghirup udara segar di antara kawalan rentetan pohon-pohon yang tegak perkasa.

Namun sayang berlaksa-laksa kali sayang  jalan itu panjangnya tidak lebih dari 200 meter. Pasti tidak lebih. Seandainya sepenggal jalan itu bisa ditarik meregang seperti karet, tentu saya akan lebih bahagia. Itulah sepenggal jalan yang saya harapkan akan melewatinya setiap hari. Seperti menunggu-nunggu jam kunjungan pacar, begitulah hasrat hati ini selalu ingin melewati jalan itu. Sepenggal jalan yang serasa jauh tapi dekat, terasa dekat tapi cukup jauh. Tak tahulah. Anda mestinya paham apa yang saya maksud. Segmen sejengkal itu begitu asri dan alami, teduh, tentram, tenang.

Bagi saya, sepenggal jalan raya Kendangsari adalah sebuah refleksi masa kini ke masa lampau. Ketika perangkat sakti berbentuk kotak belum merambah jaman, ketika tab dan komputer saku belumlah sepopuler sekarang. Ketika komunikasi antara manusia dan sesamanya begitu alami, guyub, tentram dan teduh. Tapi sekarang, lihatlah sekelilingmu. Ketika perangkat-perangkat genggam sudah menjamur seperti lumut di musim hujan, hubungan manusia terasa jauh meskipun dekat. Orang-orang duduk dalam kumpulan meja makan tapi tak ada kata dan tegur sapa terucap. Masing-masing kusyuk dengan dunia digitalnya. Bahkan dalam dalam berjalanpun mereka tertunduk sambil tersenyum-senyum mentertawai dunianya sendiri. Saya selalu berpikir apabila orang-orang ini mati karena kecelakaan atau suatu penyakit, asalkan ada perangkat genggam di sampingnya, mereka akan mati dalam damai. Rest in peace! Tengoklah juga ke dalam bis dan kereta api, mereka layaknya kumpulan zombi yang tidak bisa menoleh kanan dan kiri. Sungguh mengerikan.

Dalam sebuah buku berjudul Digital Fortress, Dan Brown menggambarkan secara gamblang dalam bentuk kisah fiktif tentang bagaimana teknologi dapat memberi implikasi etis bagi setiap manusia. Layaknya seperti koin bermata dua. Teknologi komunikasi membawa manusia yang jauh semakin dekat. Namun di balik sisi koin yang lain, teknologi telah menimbulkan keresahan dalam bertutur kata dan menyampaikan kata hati kepada orang di depan kita. Karena ia begitu jauh.

Saya selalu ingin kembali. Diam dan merenung sambil menghayati setiap langkah melewati sepenggal jalan raya Kendangsari.

Dr. Jusak Irawan.
Penulis adalah Dosen S1 Sistem Komputer
Institut Bisnis dan Informatika Stikom Surabaya

Discussion

3 comments for “Sepenggal Jalan Raya Kendangsari”

  1. pak Dekan sangat luar biasa, inspirasi Banget 😀

    Posted by folti baffi | June 2, 2016, 4:27 pm
  2. Memang, teknologi seperti dua mata pisau, tinggal bagaimana kita mengaplikasikannya. Dikendalikan teknologi atau mengendalikan tekonologi adalah sebuah pilihan. Terima Kasih.

    Posted by Tours By Rail | June 7, 2016, 2:29 pm
  3. curahan hati sang dosen yang terdalam

    Posted by dotcampus | July 8, 2016, 9:40 pm

Post a comment