// you’re reading...

Fokus

Ringankan Petugas Banjir Telemetri Pendeteksi Banjir Ciptaan Ari Wahyuni

Edisi Maret – Mei 2009 | Vol. 2
CyberCampus-SSNews,
Mahasiswa S1 Sistem Komputer (SK) kembali menciptakan karya apik bagi masyarakat. Terutama pada musim penghujan seperti saat ini, justru tercipta alat telemetri pendeteksi banjir. Alat tersebut sangat efektif untuk mengetahui ketinggian air dengan menggunakan paralon berbentuk L yang dipasang menempel di pintu air.
Di dalam paralon itu terdapat pelampung yang bergerak sesuai ketinggian air sungai. Kemudian di atas mulut paralon tersebut terdapat sensor yang dilengkapi LCD mini dan sebuah alat komunikasi radio yang akan mengirimkan data itu ke receiver di kantor pengendalian banjir.
Dengan begitu maka petugas bisa memantau ketinggian air sungai setiap saat dari kantornya, tanpa harus melihat alat ukur yang ada di bibir sungai. Bahkan ketika lampu padam sekalipun alat tersebut masih bisa memberikan laporan sesuai dengan kondisi yang sebenarnya. Karena alat kepunyaan Ari Wahyuni Mahasiswa SK angkatan 2004 ini menggunakan aki sebagai tenaga pendorong sensor untuk melakukan pendeteksian air.

Alat tersebut dibuat sebagai Tugas Akhir (TA) dari Program Studi S1 SK. Karya TA bimbingan dosen SK Harianto, S. Kom dan Ir. I Gede Arya Utama, M. MT. ini diberi nama Rancang Bangun Telemetri Pengukur Ketinggian Air. Karya tersebut masih berupa simulasi dan mendapat nilai A.
Sebelum wisuda kemarin (13/3) alat tersebut dipraktekkan oleh Ari di laboratorium prodi SK. Ari menggambarkan ketinggian air tersebut dalam sebuah kotak transparan dari fiber berukuran 25×25 cm dan tinggi 15 cm. Kotak yang disebut transmitter itu, antara lain berisi sirkuit board, aki 12 volt, LCD mini, dan alat komunikasi berupa frekuensi radio TRW 24 GHZ dan sensor seri yang digambarkan menjulur dengan kabel keluar dari kotak.
”Alat ini telah teruji, bisa merekam perubahan ketinggian air dan sangat akurat dalam hitungan per detik,” terangnya. Alat tersebut diujikan Ari dengan menggerak-gerakkan telapak tangannya di depan sensor. Kemudian hasilnya bisa dilihat dari laptop yang memunculkan sebuah grafik yang tersambung ke kotak receiver. Kotak tersebut ukurannya sama dengan kotak transmitter. Isinya, antara lain sirkuit board, kabel serial, LCD, dan aki 12 volt dua biji.
”Tampak sekali kepekaan sensor pendeteksi banjir ini,” ujar mahasiswi berjilbab itu. Kotak transmitter itulah nantinya yang akan diaplikasikan, ditempelkan di pintu air. Sedangkan receiver berada di kantor pengendali banjir. Transmitter bertugas mengirim data ke server, melaporkan berapa ketinggian air dari permukaan tinggi sungai. ”Transmitter ini harus berada sedikit di atas permukaan sungai,” ujarnya.
Ari perlu dua kali kerja menggarap transmitter tersebut. Sebab harus memprogram ulang sensornya, SRF05, agar bisa dibaca program lainnya. ”Sensor ini hanya mampu mendeteksi kedalaman empat meter dari ketinggian sungai. Jika kedalamannya lebih dari itu, harus memakai sensor SRF08.” Kata alumnus SMA Bhayangkari 1 Surabaya itu.
Jarak antara transmitter dengan paralon ditempatkan sedemikian rupa sehingga sensor tetap mampu membaca pelampung di dalam paralon. Sementara kotak transmitter-nya aman dari hempasan air sungai. ”Karena itu, alat tersebut tidak diletakkan di pintu air paling tengah, cukup di pinggir saja,” paparnya.
”Yang penting, ketinggian air di dalam paralon sama dengan ketinggian air sungai. Bibir bawah paralon menghadang arus sungai agar air bisa masuk. Data dalam bentuk grafik yang diterima receiver, akan disimpan dalam memori komputer.” Ujar wanita kelahiran 23 Juni 1986 ini. ”Dengan demikian, seluruh pergerakan air dapat terekam dan dari rekaman data ketinggian itu bisa dihitung kecepatan ketinggian air dalam hitungan menit.” Lanjutnya kemudian.
Receiver tersebut dapat menerima kiriman dari transmitter dalam jarak 300 meter. ”Itu bergantung kekuatan radio komunikasinya, sedangkan milik saya pakai TRW 24 GHz. Kalau mau lebih jauh harus ditambah kekuatan frekuensinya,” kata Ari yang menyelesaikan TA-nya dalam satu semester. Saat ini, dia masih memanfaatkan suplai energi dari aki untuk energi di masing-masing kotak itu. Jika menggunakan solar cell, ukuran kotak tidak akan sebesar ini. Untuk membuat alat itu, Ari telah menghabiskan dana sekitar satu juta setengah untuk membeli seluruh komponen.
Sebelum membuat alat itu, Ari mensurvei terlebih dahulu ke beberapa sungai di Surabaya. Rata-rata bendungan di Surabaya masih menggunakan alat ukur manual. Alat itu berupa meteran yang terpasang di tanggul atau pelapis pintu air. ”Cara kerjanya dengan melihat berapa tinggi air meteran itu,” katanya. Dia juga sempat mensurvei kota-kota lain, seperti Malang, Solo, dan Jakarta serta menemukan alat pendeteksi banjir di kedua kota terakhir. ”Namun, alat tersebut hanya pendeteksi elektronik biasa, kalau rawan banjir lampu menyala kuning, kalau banjir lampu merah menyala,” ujarnya.
Saat alat temuan Ari ini dalam proses pembuatan, salah seorang karyawan PDAM Surabaya menyarankan apabila alat tersebut telah selesai untuk segera diajukan ke Dinas Perairan. Hal ini disebabkan alat itu berguna untuk mendeteksi banjir. Orang PDAM itu teman Ayah saya,” kata Ari.[dil]

Discussion

Comments are disallowed for this post.

  1. Boleh minta kontaknya Ari Wahyuni gak? Mo konsultasi, karena saya punya ide TA yang sama, tapi pas browsing kok ternyata udah pernah dibuat.

    Posted by Vinno Christmantara | September 14, 2009, 8:31 pm
    • Mohon maaf, kami tidak memiliki kontak saudara Ari Wahyuni. Mungkin yang berkaitan dengan TA bisa kontak bagian PPTA di STIKOM Surabaya.
      Terima kasih.

      Posted by admin | September 15, 2009, 8:54 am
  2. KAK, aku bisa minta alamat e_mail kk?? masalah’a aku juga sedang membuat alat yg hampir mirip dengan alat kaka, tp saya rencana’a memakai mikrokontroler… saya ingin bertanya kak…. tlg d rep yahh..
    trima kasih ka…

    Posted by aby | July 28, 2010, 1:18 am
  3. Biasa minta no yang bisa dihubungi.. sepertinya ini sangat berguna untuk daerah saya. thx

    Posted by yoga | March 18, 2011, 8:37 am