// you’re reading...

Artikel Prodi

Peran Desain dalam Meningkatkan Skala Penjualan Perusahaan

“Kesalahan terbesar adalah menganggap desain adalah hanya sebagai sesuatu yang dilakukan di akhir proses untuk “merapikan” yang berantakan, berlawanan dengan pemahaman bahwa desain adalah masalah “sejak hari pertama” dan menjadi bagian segalanya”
~ Tom Peters

Desain - foto.istimewa

Desain – foto.istimewa

Banyak orang merasa bingung dengan makna dan tujuan desain secara luas, baik itu dari orang tua mahasiswa yang hendak mengkuliahkan anaknya diperguruan tinggi ataupun dari calon mahasiswa yang tertarik pada program studi desain di Stikom Surabaya. Kebanyakan orang tua mahasiswa ragu memasukkan anaknya dijurusan desain dikarenakan masih memiliki konsep berfikir bahwa desainer (orang yang bekerja dalam bidang desain) adalah hanya sebagai “tukang” finishing yang bertugas penghias sebuah proyek dan tidak ikut dalam andil dalam perencanaan dan sistem manajemen perusahaan.

Secara komprehensif tidaklah demikian, di dalam perusahaan baik jasa ataupun manufaktur, peran desain bersifat vital bahkan sebagai jantung dari seluruh kegiatan perusahaan. Hal tersebut dikarenakan seluruh konsep baik sistem perusahaan terangkum seluruhnya di dalam sebuah desain. Seperti selembar kertas yang dapat mewakili karakteristik seluruh aspek di dalam divisi perusahaan.

Tanpa desain, seluruh konsep perusahaan akan menjadi panjang dan sulit dimengerti oleh seluruh staf dan karyawan, karena serangkaian kehendak dan tata aturan tiap divisi memiliki cara sendiri. Jika dianalogikan, seperti akar-akar pohon yang sangat banyak tanpa ada batang yang menopang dan menghimpun seluruh aktivitas hingga ke buahnya.

Donela Meadows salah satu pakar teori sistem menjabarkan bahwa akar-akar aktivitas divisi perusahaan tersebut sebagai “serangkaian hal,  sel, dan molekul, yang saling terhubung dengan cara tertentu yang menghasilkan pola perilaku dan terhubung untuk melakukan suatu.” Sedangkan peran dari desain berfungsi menyatukan dan menjembatani seluruh sistem di seluruh divisi perusahaan menjadi satu bentukan yang indah dan mudah di mengerti oleh seluruh karyawan.

Lalu bagaimana kita bisa memahami bentuk desain secara keseluruhan di dalam perusahaan. David Butler, kepala desain perusahaan minuman ringan terbesar di dunia “coca-cola” dalam bukunya yang berjudul “Design To Grow” menyebutkan bahwa cara untuk memahami desain adalah seperti memahami bentuk dari jembatan penghubung dari suatu sistem keseluruhan di perusahaan. Secara umum terdapat dua unsur utama pembentuk unsur-unsur sistem, pertama adalah unsur yang terlihat, diantaranya adalah desain interior, seragam, visual, kemasan, produk, furniture dan sebagainya. Sedangkan unsur-unsur sistem yang “tidak terlihat” seperti, perilaku, sikap, jasa, dan sebagainya. Tiap sistem tersebut saling bersinergi satu sama lain dan menghasilkan solusi yang dapat dipahami bersama oleh seluruh staf, karyawan, maupun konsumen.

Pertanyaan lalu timbul, bagaimana orang awam dapat mengetahui desain itu baik atau tidak. Simon Sinek menjawab pertanyaan tersebut dalam bukunya “start with why” yang dijabarkan dalam presentasi TED tahun 2009. Sinek menggunakan model Golden Circle (Lingkaran Emas) dengan tiga lingkaran terpusat dengan tiga tahapan yakni Mengapa (Tujuan), Bagaimana (Proses), dan Apa (Produk), sehingga desain secara sistem dapat diketahui dan mengapa desain tersebut ada, bagaimana proses desain tersebut, dan desain tersebut berwujud seperti apa.

Seperti contoh seorang konsumen ingin pergi dengan menggunakan maskapai penerbangan, tentu saja konsumen tersebut melihat secara keseluruhan terminologi desain di dalam maskapai tersebut bukan dari satu aspek desain saja. Mulai dari mengapa layanan maskapai itu ada dan hadir, bagaimana proses pemesanan tiket, kargo penyimpanan barang hingga bagaimana layanan didalam bandara sampai didalam kabin pesawat. Tentu saja juga terkait apa yang dihadirkan dalam desain layanan maskapai tersebut sampai pada kenyamanan produk kursi penumpang didalam kabin. Jadi konsumen akan secara umum menilai desain bukan dari satu sisi saja melainkan dari suatu keseluruhan perusahaan. Jika konsumen menemukan ketidaknyamanan, baik dari sisi layanan maupun fasilitas, secara dasar konsumen sudah dapat memahami bahwa desain tidak berfungsi dengan baik dari salah satu sistem, oleh karena itu perusahaan harus fokus pada apa yang didesainnya.

Lalu apakah desain dapat berfungsi di dalam perubahan strategi perusahaan. Masih dalam buku yang sama David Butler menyebutkan bahwa jika perusahaan ingin bergerak cepat mengikuti arus globalisasi dalam skala kegesitan penjualan, maka mereka juga harus cepat menyesuaikan diri dengan perubahan pasar dengan “desain” sebagai solusi untuk mempercepat proses perubahan startegi kinerja untuk seluruh divisi.

Salah satu contoh yang dialami oleh anak perusahaan The Coca-Cola Company di Jepang bernama ILOHAS (Life of Health and Sustanaibility) yang bergerak di bidang kemasan air mineral dalam kemasan. Awal produk ILOHAS bernama MINAQUA. Sejak 2006 penjualan produk air kemasan MINAQUA terus mengalami penurunan di daerah Tokyo dikarenakan semakin banyaknya pesaing di kategori yang sama. Maka tim desainer MINAQUA segera berkolaborasi dengan berbagai lintas disiplin ilmu yang terdiri dari tim desainer, perencana strategi, tenaga pemasaran, ahli rekayasa, teknisi, manajer merek, manajer hubungan pelanggan, dan orang-orang dari bagian pembotolan yang ahli dalam sector manufaktur dan logistik untuk membahas perubahan strategi penjualan yang harus dilakukan MINAQUA.

Awalnya tim MINAQUA berencana mengubah strategi dari rantai suplai dan layanan penjualan, namun akhirnya tim melihat bahwa ada perbaikan yang lebih penting yang perlu dilakukan, yaitu pada desain kemasan. Tim melihat bahwa kondisi sosial masyarakat Jepang yang akrab dengan daur ulang dan lingkungan tempat tinggal yang sempit karena lahan yang terbatas, sehingga tidak memungkinkan bagi masyarakat untuk menyimpan kemasan botol dalam jumlah yang banyak. Untuk itu akhirnya Coca-Cola memperkenalkan produk merek minuman  baru yang bernama ILOHAS. Produk itu dikemas dalam botol fleksibel yang beratnya hanya 12 gram dalam keadaan kosong atau 40 persen lebih ringan dari botol plastic biasa. Desain botol yang ringan tersebut terbukti membantu dihampir seluruh kinerja perusahaan, baik membantu dalam jumlah karbondioksida yang dihasilkan dari proses manufaktur hingga 3000 ton, membantu pihak marketing dalam membuat strategi yang lebih menarik dari desain botolnya yang mudah diremukkan dengan kampanye barunya, yaitu 1. Pilih, 2. Minum, 3. Remukkan, 4. Daur ulang.

Konsumen Jepang sangat menyukai suara dari meremukkan desain botol tersebut sehingga dari segi penjualan produk meningkat pesat dalam tahun pertamanya. Dari sini dapat diketahui desain dari kemasan botol ILOHAS dapat mempengaruhi dan merubah seluruh sistem diseluruh divisi perusahaan baik dari manufaktur, pemasaran, hingga pada daur ulang dalam waktu yang singkat.

Desain kemasan botol minuman ILOHAS - foto.istimewa

Desain kemasan botol minuman ILOHAS – foto.istimewa

Kini banyak perusahaan menerapkan “desain” sebagai fundamental awal strategi perusahaan dalam menerapkan fleksibilitas tuntutan pasar dan peningkatan penjualan produk hingga dalam layanan pasca penjualan kepada konsumen. Coca cola berhasil menerapkan strategi kemudahan penjualan dan manufaktur melalui standarisasi desain logo dan warna merahnya. Ferrari yang bertenaga dan sporty dengan desain kuda jingkrak dan warna merahnya. Samsung yang simpel dan elegan dengan desain logonya, serta Nesttle yang berkonsep kekeluargaan melalui logo keluarga burung dan warna cokelat dalam tiap produknya.

Dari sini dapat diketahui bahwa peran desainer adalah bukan hanya sebagai “tukang atau operator gambar yang bergerak hanya karena adanya perintah atasan,” namun secara luas desain dapat berperan aktif di berbagai bidang baik sebagai jembatan dalam menyelesaikan solusi di berbagai divisi perusahaan. Desain mampu menyatukan berbagai kebutuhan dan proses dari tiap divisi agar bisa bergerak bersama-sama dengan menggunakan desain sebagai konsep penggeraknya. Desain menyederhanakan proses yang rumit agar lebih mudah dipahami dan ringkas serta meningkatkan sistem dan proses yang kaku menjadi lebih estetis. Terakhir desain mampu meningkatkan penjualan dengan proses manufaktur yang ringkas dengan pengeluaran biaya minimum dan pendapatan yang maksimal.

Penulis: Yosef Richo, Dosen S1 Desain Grafis Stikom Surabaya


Discussion

No comments for “Peran Desain dalam Meningkatkan Skala Penjualan Perusahaan”

Post a comment