// you’re reading...

Fokus

Mengajar dengan hati dan bijaksana

Edisi Maret – Mei 2009 | Vol. 2

CyberCampus-SSNews,
Menyikapi peranan dosen dalam upaya menjadi Transformator Bangsa, STIKOM SURABAYA menggelar mimbar ilmiah dengan tema ”Masih Bisa Diandalkankah Peran Dosen sebagai Transformator Sivilisasi Bangsa” di gedung Serba Guna kampus STIKOM SURABAYA, Jumat (24/4) lalu.

Kegiatan ini bertujuan untuk membuka peranan dosen sebagai pendidik mampu bersikap dan berperilaku yang sesuai demi kemajuan bangsa. Sementara pendidik merupakan unsur yang tidak lepas dari peranan penting dalam menanamkan hal itu kepada individu yang dididiknya.
Namun, kondisi dan situasi saat ini justru menampilkan hal yang tidak diharapkan dimana hasil didikan tidak memperhatikan dan mengambil makna dengan betul dari setiap wawasan ilmu pengetahuan yang ditransformasikan oleh pendidik. Anak didik makin bersikap pasif dan lebih mementingkan idealisme diri tanpa memperhatikan peradaban atau budaya untuk kemajuan bangsa yang tinggi. Untuk itu seorang pendidik harus memiliki kearifan. Begitulah ungkap Abdullah Sahab, dosen Institut Teknologi Surabaya (ITS) mengawali menjadi pembicara di sesi pertama mimbar ilmiah itu. Kearifan menurutnya adalah suatu kemampuan mencari petunjuk arah dalam kesesatan, memilih jalan yang lurus ketika jalan mulai berpencar, kemudian menjadikan kesalahan sebagai stepping stone menuju kemuliaan, dan melihat di balik fenomena menjangkau hakikat. ”Ilmu tanpa kearifan. Tidak akan bermanfaat dan tidak berkembang, kehilangan nilai sakralnya, dan bisa membawa bencana,” paparnya.
Ini bukan persoalan agama, namun ia yakin semua agama mengajarkan hal baik di dunia ini. Jadi apapun bentuknya mengajar harus diawali dari hati dan niat yang tulus. Tanpa hati yang ikhlas maka para pendidik tidak akan bagus pola mengajarnya, apalagi menjadi transformator bangsa.
Berbeda dengan Kresnayana Yahya, pengamat dari ITS ini mengatakan kalau kelemahan dosen di Indonesia kurang responsibility. Untuk membaca dan menulis sudah bagus, bahkan aritmatik sekalipun. Namun perlu diingat bahwa untuk menjadi transformator bangsa, dosen tidak lagi hanya sekedar mengajar. ”Kebanyakan dosen dicetak bukan untuk mendesain, tetapi mengajar saja. Padahal mereka berdiri sendiri, kalau misal tidak enak cara mengajarnya tidak ada salahnya diutarakan kepada mahasiswa,” terangnya
Hal itu akan memudahkan mahasiswa mencerna ilmu yang diberikan oleh dosen. Pengetahuan tanpa kebijakan juga tidak seimbang, gelar profesor hanya sebatas instrumental, pendidik yang baik adalah pendidik yang berpengalaman. Terdapat interaksi dan tujuan untuk membuat mahasiswa tersebut berhasil dalam berkarya.
”Jadi seorang pendidik bukan semata untuk profit, melainkan dari hati dengan kebijaksanaan. Dan itu perlu adanya pengalaman yang banyak. Paradigma pendidik sebagai pengajar sudah tidak zaman. Melainkan harus punya konsep mengajar,” terangnya. Kegiatan ini diikuti setidaknya puluhan dosen dan mahasiswa dari STIKOM SURABAYA dan umum. Selain menjadi transformasi, kegiatan ini juga bertujuan untuk memotivasi para dosen dan mahasiswa STIKOM SURABAYA, agar di ultah STIKOM yang ke-26 tahun bisa menghasilkan banyak prestasi khususnya di bidang teknologi informasi. [dil]

Discussion

Comments are disallowed for this post.

Comments are closed.