// you’re reading...

Artikel Prodi

Masyarakat, Media, dan Generasi Web 2.0

Masyarakat, Media, dan  Generasi Web 2.0 - Foto: mind42.com

Masyarakat, Media, dan Generasi Web 2.0 – Foto: mind42.com

Saat ini, hampir sebagian dari hidup kita tidak lepas dari media sosial seperti facebook, twitter, instagram, path, linkedin, youtube, serta aplikasi lain seperti whatsapps dan blackberry messenger. Selain itu, media daring seperti blog dan media online belakangan semakin manjamur. Masyarakat tidak hanya tergoda untuk membaca, tetapi juga ikut mendistribusikan informasi.

Fenomena ini sangat lazim di negara yang telah memberlakukan kebebasan pers, termasuk Indonesia. Sejak rezim Soeharto runtuh, pers di Indonesia mendapat angin segar setelah tiga puluh tahun dipasung pemerintah. Kran kebebasan pers resmi dibuka di bawah payung Undang-Undang Kebebasan Pers Nomor 40 Tahun 1999. Setiap perusahaan media bebas menyampaikan informasi tanpa takut pada siapapun,terutama pemerintah. Dengan perkembangan teknologi komunikasi yang semakin cepat dan canggih saat ini, segala informasi bisa diakses dari mana saja. Media menjadi konvergen. Ponsel tidak hanya bisa digunakan untuk telepon, tetapi juga digunakan untuk mengakses sekaligus mendistribusikan informasi di seluruh dunia, baik berupa teks, gambar, audio, video, dan lain sebagainya. Para pakar teknologi menyebut era ini sebagai sebagai era generasi Web 2.0.

Dalam teknologi komunikasi, penyampaian pesan dalam generasi Web 2.0 melibatkan banyak media. Generasi ini berbeda dengan generasi pertama Web 1.0 yang hanya mentransmisikan informasi atau berita satu arah. Masyarakat hanya pasif menerima pesan. Web 1.0 memiliki ciri read-only, sedangkan Web 2.0 berciri read-write. Dalam Web 2.0, masyarakat tidak hanya membaca saja, tetapi juga menulis dan mengunggah. Jika Web 1.0 hanya mempresentasikan dan mengorganisir, maka generasi kedua Web 2.0 mendiskusikan dan berintegrasi. Masyarakat bukan hanya sebagai konsumen tetapi juga sebagai produsen informasi atau dalam istilah populer disebut user generated content seperti youtube atau wikipedia. Informasi berupa teks, gambar, audio, video, dan animasi sehingga website dalam generasi ini lebih dinamis dan interaktif.

Dalam perspektif media massa, generasi Web 2.0 melibatkan banyak media yaitu media konvensional (televisi, koran, majalah, radio) dan new media (blog, wiki, sosial media) sehingga pesan-pesan yang disampaikan tidak sekedar mentransmisikan tetapi juga mendistribusikan dan mendiskusikan (conversation). Masyarakat bisa berbincang dengan banyak orang saat menggunakan media di ruang yang berbeda. Penggunaan media tidak cukup satu, tapi lebih. Berbagai media terintegrasi jadi satu media, namun hanya membahas satu topik.

Misalnya, sebuah program talk show di televisi. Dalam praktiknya, program talk show ini tidak hanya menghadirkan narasumber-narasumber yang bersebrangan (cover both side) di studio tetapi juga melibatkan masyarakat (citizen journalism) melalui komentar warga di sosial media, meme di blog-blog, gambar di instagram, dan video di youtube. Karena itu, konten-konten media seperti video, berita, dan lain sebagainya tidak lagi menjadi hak  privat media dan disimpan sedemikian rupa sehingga sulit dikonsumsi publik sebagaimana generasi Web 1.0, tetapi justru disebarkan ke masyarakat melalui media online, youtube, dan lain sebagainya. Hal ini karena setiap media ingin mempromosikan dirinya ditengah masifnya informasi. Setiap media berlomba untuk menggaet masyarakat agar memilihnya sebagai rujukan informasi. Bahkan konten-konten media dipromosikan sedemikian rupa melalui media-media sosial seperti facebook, twitter, atau youtube. Sementara pengguna media akan membaca dan men-share kepada pengguna lainnya. Dengan demikian, informasi-informasi yang disebarkan akan memudahkan masyarakat untuk mengingat brand dari media sekaligus menjadikannya sebagai rujukan informasi. Sedangkan bagi pengguna media sosial, perilaku membaca dan men-share ini otomatis akan mempromosikan dirinya kepada masyarakat bahwa dia adalah individu yang memiliki kapabilitas, khususnya dalam update informasi. Pada level ini, setiap media maupun personal berebut untuk mempromosikan (baca: mengiklankan) brand-nya sehingga memiliki reputasi baik di masyarakat.

Secara perlahan, transformasi media ini menciptakan masyarakat informasi. Sebuah era yang mengoptimalkan penggunaan teknologi komunikasi (ICT) dari berbagai macam sendi kehidupan: politik, sosial, budaya, dan ekonomi. Masyarakat tidak hanya berinteraksi dalam dunia nyata tapi juga berkomunikasi dua arah secara virtual (virtual reality). Dampaknya, setiap perilaku public figure seperti artis atau politisi yang dianggap negatif dan berpotensi melukai publik, dengan cepat menyebar secara meluas dan berkembang (viral). Dan dengan cepat pula akan mendapat tanggapan dari masyarakat. Di sisi lain, masyarakat yang dianggap mencemarkan nama baik, menyebarkan kebencian, serta tindakan-tindakan yang dianggap merugikan orang lain melalui internet, mau tidak mau harus siap berhubungan dengan kepolisian dan  hukum. Hal ini karena setiap transaksi di internet telah diatur dalam Undang-Undang No.11 Tahun 2008 tentang Informasi Transaksi Elektronik.

Peradaban dunia begitu cepat. Informasi dengan cepat didapatkan. Maka di era masyarakat informasi ini sebuah premis berlaku “Siapa yang menguasai informasi, maka dialah yang akan menguasai dunia”. Kendati demikian yang patut kita renungkan adalah “Hidup kita jangan sampai dikendalikan media, tapi kitalah yang harus mengendalikan media”.

 

Muhammad Bahruddin, S.Sos., M.Med.Kom.
Penulis adalah Pengamat Media dan Komunikasi,
Ketua Program Studi Desain Komunikasi Visual
FAKULTAS TEKNOLOGI DAN INFORMATIKA
INSTITUT BISNIS DAN INFORMATIKA STIKOM SURABAYA

Discussion

8 comments for “Masyarakat, Media, dan Generasi Web 2.0”

  1. artikel yg keren walaupun q ga ngerti ttg web

    Posted by udin | March 14, 2016, 5:41 pm
  2. iya benar kak , sekaramg media sosial adalah makanan sehari-hari untuk manusia . apalagi benerasi remaja yang sedang puber , media sosial sudah dianggap sebagai tempat curahan hatinyaa .

    salam

    Posted by anton | March 17, 2016, 8:41 am
  3. kerenn

    Posted by toni | March 19, 2016, 8:27 pm
  4. Benar sekali pak.. sekarang masyrakat Indonesia bagaikan tidak bisa lepas dari jejaring sosial. Yang lebih parahnya saya sendiri sering melihat ‘berdoa aja tidak sama tuhan melainkan sama sosmed’. Semoga tidak silau dengan kemajuan teknologi dan tidak di salah gunakan.

    Posted by Kang Angga | April 29, 2016, 9:23 pm
  5. Tapi memang harusnya media difilter… apalgi media kita terlalu banyak menggiring opini untuk kepentingan golongan/partai tertentu

    Posted by Hariza Syarif | May 4, 2016, 7:37 am
  6. sangat bermanfaat artikelnya,,,smoga sukses

    Posted by tempat wisat di semarang | May 6, 2016, 9:11 pm
  7. Bener ini.. Sekarang jaman semakin maju…

    Posted by Dika | May 25, 2016, 8:14 pm
  8. Pada saat ini Daftar Web 2.0 Semakin sedikit Untuk tulis Informasi, sat ini Banyak Yang Pada Bangkrut kayanya

    Posted by Opik | June 2, 2016, 11:23 pm
  9. Ulasan Yang baik semoga di Lanjutkan dengan Artikel Serta Data Dari Berbagai Palt For daro web 2.0

    Posted by opik | September 22, 2016, 1:59 pm

Post a comment