// you’re reading...

Fokus

Kapitalisme dan Perburuhan

Edisi Maret – Mei 2009 | Vol. 2

Buruh masih menjadi sapi perahan di negeri ini. Selain upah murah, tingkat kesejahteraan buruh pun masih belum tersentuh. Bahkan sejak revolusi industri abad 18 lalu sampai sekarang, nasih buruh masih tetap sama, obyek “sapi perahan”

Revolusi Industri Mengubah Nasib Buruh
Awal mula revolusi industri dimulai ketika tahun 1760 – 1830 kemajuan teknologi dan ekonomi mendapatkan momentum dengan perkembangan tenaga-uap, , dan kemudian di akhir abad tersebut perkembangan dan perkembangan . Efeknya sungguh luar biasa, di mana budayanya menyebar ke seluruh dan , kemudian mempengaruhi seluruh dunia. Efek dari perubahan ini di sangat besar dan seringkali dibandingkan dengan revolusi kebudayaan pada masa ketika mulai dilakukan dan membentuk , menggantikan kehidupan .
Perubahan besar pun terjadi dalam dunia industri yang dulunya roda ekonomi berdasarkan pekerja, kemudian berubah total menjadi dominasi industri dan diproduksi mesin. Nasib ribuan buruh dan pekerja pada saat itu pun dipertaruhkan. Tenaga-tenaga itu digantikan oleh mesin-mesin yang lebih canggih yang mempunyai kecepatan produksi sepuluh kali lipat jika menggunakan tenaga pekerja. Tentu saja revolusi ini benar-benar mengubah nasib pekerja menjadi semakin sulit pada jaman itu. Untung kemudian kaum kapitalis mempunyai jalan tengah mengatasi krisis ini dengan cara mengalihkan pekerja menjadi buruh-buruh pabrik.

Kapitalisme yang Berevolusi
Kapitalisme seakan sudah tak terkalahkan lagi, bahkan kini ia telah merasuk ke dalam idiologi yang dulunya adalah notabene musuh besarnya. Seperti halnya Tiongkok, ia kini menjelma menjadi Negara super power baru di bidang ekonomi. Potensi yang dimiliki Tiongkok mampu menggilas negara-negara kapitalis murni saat ini hanya dengan sekali hembusan. Yang unik adalah, Tiongkok membangun neokapitalisme itu di atas fondasi komunisme. Suatu betuk evolusi yang tak terduga. Bahkan Francis Fukuyama dalam bukunya “The End of History and The Last Man” seakan menegaskan bahwa inilah kemenangan kapitalisme yang berlandaskan liberalisme atas segala idiologi manapun di dunia.
Dalam makalahnya tersebut, Fukuyama, mencatat, bahwa setelah Barat menaklukkan rival ideologisnya (monarkhi herediter, fasisme, dan komunisme) dunia telah mencapai satu konsensus yang luar biasa terhadap demokrasi liberal. Ia berasumsi, bahwa demokrasi liberal adalah semacam titik akhir dari evolusi ideologi atau bentuk final dari bentuk pemerintahan.
Tiongkok sebagai Negara penganut paham komunis boleh jadi dianggap sebagai kekuatan terbesar komunis yang masih ada saat ini. Tetapi benarkah? Negara ini diperintah oleh partai komunis yang jumlah angotanya tidak lebih dari 80 juta jiwa. Bandingkan dengan jumlah penduduk Tiongkok yang sudah mencapai 1,3 miliar. 80 juta bukan angka yang sepadan dan signifikan bila dibandingkan dengan total jumlah penduduk Tiongkok. Apa artinya ini? Bahwa komunis itu adalah pemerintah dan system politiknya. Warga negaranya, umumnya sudah mulai ber-Tuhan. Tetapi yang berkembang di Tiongkok adalah adanya pembedaan antara ber-Tuhan dan beragama
Perkembangan ekonomi Tiongkok diyakini sebagai salah satu yang tercepat di dunia, sekitar 7-8% per tahun menurut statistik pemerintah Tiongkok. Ini menjadikan Tiongkok sebagai fokus utama dunia pada masa kini dengan hampir semua negara, termasuk negara Barat yang mengkritik Tiongkok, ingin sekali menjalin hubungan perdagangan dengannya. Tiongkok sejak tanggal

Buruh Masih Bernasib Malang
Upah murah, buruh yang bisa dikendalikan, model pekerja kontrak yang bisa diputus kapanpun, adalah surga bagi investor. Tanpa harus menanamkan modal besar, investor bisa meraup keuntungan besar dengan menekan biaya produksi pada sektor perburuhan.
Bakan penguasa daerah pun tak bisa mengintervensi investor untuk bertindak lebih fair terhadap kesejahteraan kaum buruh. Penguasa daerah lebih takut nilai investasi triliunan itu melayang daripada melindungi hak-hak buruh. Penguasa daerah pun tidak bisa sembarangan menentukan nilai UMR tanpa ada kompromi dengan pengusaha yang menjadi investor. Ini menjadi lingkaran setan kemalangan kaum buruh.
Kaum pemodal dengan paham liberalisme sudah benar-benar meracuni seluruh negeri ini dengan kekuatan modalnya. Sekali lagi Fukuyama menuliskan bahwa pada “akhir sejarah”, tidak ada lagi tantangan ideologis yang serius terhadap Demokrasi Liberal. Di masa lalu, manusia menolak Demokrasi Liberal sebab mereka percaya bahwa Demokrasi Liberal adalah inferior terhadap berbagai ideologi dan sistem lainnya. Tetapi, sekarang, katanya, sudah menjadi konsensus umat manusia, kecuali dunia Islam, untuk menerapkan Demokrasi Liberal.

Ideologi Terbukti Tidak Mengenyangkan Rakyat
Setelah sekian dasawarsa, Tiongkok baru menyadarinya bahwa ideologi terbukti tidaklah manjur untuk mengenyangkan rakyat. Bahkan seorang Deng Xiaoping pun harus meninggalkan ideologi ini ketika ia menapaki tempat tertinggi PKC pada 1979. Deng meninggalkan komunisme dengan mengumumkan revolusi baru. Baginya ideologi sudah tidak berarti. Komunisme hanya membawa Negara ini masuk ke jurang budaya korup yang sudah mengakar. Deng juga telah sadar bahwa hanya kapitalisme yang bisa mensejahterakan rakyat. Rusia yang dikenal biang komunis pun sekarang menjelma menjadi Negara liberal dengan presiden pertama Boris Yeltsin yang notabene komunis tulen.
Kapitalisme pun telah menjelma menjadi budaya arogan yang mirip paham komunis yang konservatif demi melanggengkan kedigdayaan ekonominya dengan segala cara. Bahkan ia tanpa malu-malu harus mengebiri hak buruh demi keuntungan yang semakin besar. Karyawan dan buruh pabrik hanya dijadikan sapi perahan pemilik modal. Demokrasi yang dijunjung tinggi dan diperkenalkan mereka sebagai peradaban tinggi, kini tak lebih dari wacana buku sejarah tua di museum. Ketika komunisme telah runtuh dan berevolusi menjadi semangat baru di timur, di belahan bumi lain justru kapitalisme kini telah menjelma menjadi komunisme klasik yang sudah ditinggalkan di Negara asalnya.
Ketika buruh dan buruh dipandang hanya sebatas mesin produksi, maka pemodal tak ubahnya seperti komunis tulen. Bukankah ini kemunduran peradaban kaum kapitalis yang konon katanya amatlah tinggi?

Rudi Santoso, S.Sos
Penulis adalah Staf Perpustakaan STIKOM SURABAYA

Discussion

Comments are disallowed for this post.

  1. barusan saja lagi banyak demo buruh buruh kenaikan gaji gan

    Posted by Contoh Denah Rumah Minimalis | November 7, 2014, 3:11 pm
  2. Mestinya para pengusaha menjadikan para buruhnya sebagai partner, jangan jadikan sebagai “obyek penderita”

    Posted by percetakan | December 4, 2014, 9:31 pm
  3. Salah satu cara untuk mengubah nasib buruh adalah dengan membuka wawasan mereka tentang kewirausahaan. Dengan membuka usaha sampingan, suatu saat perlahan-lahan mereka bisa digiring menjadi pengusaha murni, sehingga bisa terbebas dari belenggu kapitalisme

    Posted by Maryoto | July 17, 2015, 2:35 pm
  4. kepada kaum buruh saran saya tumbuhkan mental wirausaha dalam diri anda dan jangan mau menjadi sapi perahan.

    Posted by Raden Sudrajat | December 29, 2015, 2:49 pm
  5. masa jadi buruh terus, wirausaha dong

    Posted by dotcampus | July 8, 2016, 9:35 pm