// you’re reading...

Artikel Prodi

Blunder atau Paradox IT?

Rudi Santoso

Rudi Santoso, S.Sos., M.M.

Teknologi Informasi, situs jaring sosial dan segala macam ekses yang ditumbulkan menjadi sebuah trend baru saat ini. Semua orang mengerti, tetapi ironisnya tidak semua orang paham akan filosofi dan asas manfaat penggunaaan Teknologi Informasi itu sendiri. Maka “penyakit” yang ditimbulkan dari perkembangan TI itu sendiri pun macam-macam, sampai dengan kasus perceraian.

 

Fenomena Pemanfaatan TI

Teknologi informasi sudah sedemikian pesat perkembangannya. Tak ada satupun kekuatan di dunia ini mampu menandingi atau bahkan mengerem perkembangan Teknologi Informasi itu sendiri. Mulai dari perpustakaan, tata kelola dan administrasi pemerintahan, sekolah, perusahaan, bahkan kantor kecil kelurahan telah memanfaatkan Teknologi Informasi untuk mempermudah pekerjaannya.

Teknologi Informasi (khususnya internet) sudah menjadi kebutuhan utama setelah sembako (sembilan bahan pokok) dalam kehidupan masyarakat saat ini. Seakan kita tidak bisa hidup tanpa teknologi itu sendiri. Sebagai contoh, remaja jaman sekarang boleh “miskin” atau kehilangan apapun yang berharga, asalkan bukan telepon genggam yang hilang. Kenapa? Karena gadget yang satu ini telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam hidupnya.

 

Situs Jejaring Yang Menjamur

Apa yang dilakukan Mark Zuckerberg,  pada 4 Februari 2004 bersama seorang teman Harvard-nya Andrew McCollum, mungkin  tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Situs jaringan sosial yang diluncurkannya mampu membius ratusan juta umat manusia di bumi ini untuk ikut larut dalam dunia jejaring yang ia namakan “Buku Wajah” atau Facebook.

Begitu dahsyatnya pengaruh “epidemic” baru ini, mampu merevolusikan sebuah konsep berkomunikasi secara konvensional. Ia mampu menghilangkan jarak, ruang dan waktu serta batas-batas sosial. Ia juga mampu meredam keriuahan verbal dalam komunikasi, menjadi bentuk-bentuk komunikasi yang sunyi di kamar-kamar pribadi. Ajaibnya, “keriuhan” yang hanya terjadi dalam benak mereka justru menjadi sebuah komunikasi yang intens dan mengalahkan komunikasi konvensional.

Realitas dalam dunia maya ini mampu merepresentasikan secara utuh perasaan dan emosi-emosi yang biasa terjadi dalam komunikasi konvensional. Sehingga pengguna jejaring ini mempu menumpahkan perasaan senang, marah, cemburu, kesal dan sebagainya dengan begitu nyata persis seperti halnya dalam komunikasi konvensional.

Epidemic” ini tidak hanya menyerang warga kota besar seperti Surabaya ataupun Jakarta. Ia sudah mampu menjamah sampai ke pelosok negeri dan pedesaan. Dalam “epidemic” ini bahkan kita bisa dianggap sebagai kaum minoritas di tengah budaya dan gaya hidup maya, jika kita belum atau tidak mempunyau akun jejaring sosial. Banyaknya warga kota besar yang menggunakan situs jejaring sosial, sedikit banyak bisa memberikan dampak positif. Meski demikian ekses negatif yang ditimbulkan tak kalah banyaknya.

 

Paradoks Produktifitas

Richardus Eko Indrajit dalam bukunya “Kajian Strategis Cost Benefit Teknologi Informasi” pernah mengungkapkan sebuah teori paradok produktifitas pemanfaatan teknologi informasi. Ia mengungkapkan bahwa ada sebuah ketimpangan antara investasi IT dan produktivitas sebagai ekses negatif dari Teknologi Informasi itu sendiri. Bahwa investasi kadang tidak sebanding dengan produktifitas yang diharapkan.

Bahkan beberapa tahun lalu telah diungkap ada sebuah fenomena baru yaitu meningkatnya perceraian PNS (Pegawai Negeri Sipil) di lingkungan Pemkot Surabaya. Lebih mengagetkan lagi adalah dugaan meningkatnya kasus perceraian ini diakibatkan oleh ekses negatif dari situs jaringan sosial.

Terus terang ini adalah fenomena baru. Pemanfaatan fasilitas Teknologi Informasi yang diharapkan bisa meningkatkan produktifitas pegawai di lingkungan Pemkot, malah membawa ekses yang tidak diharapkan. Penggunaan TI di lingkungan kerja sudah tidak lagi menjadi alat bantu pekerjaan, namun telah terjadi pergeseran manfaat. Situs jaring sosial pun sudah berevolusi menjadi sebuah ajang perselingkuhan. Pengguna TI di lingkungan kerja yang bersangkutan tidak lagi memahami asas manfaat dan filosofi penggunaan TI di lingkungan kerja.

Adanya pergeseran manfaat TI di lingkungan kerja, merupakan fenomena yang terjadi di mana-mana. Penggunaan TI tidak lagi sebatas pada alat bantu pekerjaan, tetapi telah bergeser kepada sebuah kesenangan. Apalagi jika karyawan yang bersangkutan telah terjangkiti “penyakit” epidemic situs jejaring sosial. Karena “penyakit” ini bisa menjadi “racun” yang bisa menghambat produktifitas itu sendiri. Padahal, jika kita memanfaatkan situs jejaring sosial ini dengan baik, tentu saja manfaatnya juga besar. Salah satu manfaat situs jejaring sosial ini adalah sebagai ajang promosi perusahaan bahkan sampai dengan untuk meningkatkan brand awareness sebuah produk yang dijual di perusahaan tempat kita bekerja.

Tiga Falsafah

Menghadapi fenomena dan distorsi perkembangan sosial, mengingaktkan kita akan tiga falsafah budaya Jawa yang mungkin masih berguna saat ini. Tiga falsafah tersebut adalah, Ojo Gumunan, Ojo Kagetan Lan Ojo Dumeh. Artinya, jangan jadi orang yang suka heran, kagetan dan mentang-mentang.

Tanpa disadari kadang kita sering terjebak pada tiga hal ini dimana kita terlalu larut dalam euphoria dan gumun akan keajaiban teknologi. Ke-gumun-an inipun berakibat pada budaya kagetan yang snob pada hal-hal baru. Bahwa kita akan dianggap “sakit” jika kita tidak mengikuti trend yang berkembang saat ini. Ini adalah sebuah fenomena baru, di mana Heru Margianto (penulis lepas) dalam artikelnya “Epidemi Skizofrenia” pernah mengungkapkan adanya stigma yang jungkir balik ketika kegilaan orang waras itu terjadi jika minoritas orang waras yang sangat minoritas, hidup di tengah masifitas orang gila. Maka jangan heran jika kita akan dianggap “sakit” jika kita belum atau tidak mempunyai akun situs jaring sosial.

Keduanya (gumun dan kagetan) akan berekses pada perilaku dumeh (mentang-mentang). Perilaku-perilaku yang bekerja sekedarnya. Selebihnya, bermain internet dan jejaring sosial adalah yang utama. Jika hal ini terjadi, maka tidak salah jika Indrajit mengungkapkan, bahwa inilah yang disebut sebuah paradok produktifitas.

Rudi Santoso, S.Sos., M.M.
Penulis adalah Dosen Program Studi Komputerisasi Perkantoran dan Kesekretariatan
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
INSTITUT BISNIS DAN INFORMATIKA STIKOM SURABAYA

Discussion

8 comments for “Blunder atau Paradox IT?”

  1. nice artikel

    Posted by vimax | April 20, 2016, 4:09 pm
  2. Bagus pencerahannya pak.. anak2 muda skrg kebanyakan selalu silau dengan perkembangan jaman terutama di bidang teknologi. Banyak juga sekrang yang pada GUMUNAN,KAGETAN LAN DUMEH. Apalagi sekarang mentang2 dah bisa bisa beli teknologi yang canggih langsung pada sumeh (kemaki).

    Posted by Kang Angga | April 29, 2016, 9:19 pm
  3. terimakasih pa dosen, informasinya

    Posted by Berkas Lagu STAFABAND | May 10, 2016, 9:42 pm
  4. good infonya

    Posted by bantal mobil | May 23, 2016, 11:40 am
  5. Falsafat yang pas untuk generasi muda sekarang

    Posted by Yudha | May 25, 2016, 3:02 pm
  6. thanks eya makin menambah ilmi nie gua

    Posted by Kumpul Internet | July 25, 2016, 11:16 am
  7. trimakasih pencerahannya

    Posted by Kevin | September 16, 2016, 11:31 am
  8. Semua karena kemajuan zaman yang memang begitu adanya

    Posted by Harga Bore Pile Terbaru | January 21, 2017, 10:27 am

Post a comment